Minggu, 1 September
Setidaknya seperti itu waktu yg ditunjukkan hpku. Hah, semoga media ini bisa aku gunakan dengan bijaksana dan menjadi pahala jariyyah untukku utuk bekal bertemu dg Kekasihku.
Ada suatu masa, kala itu aku begitu banyak mencoba sesuatu yg baru. Kebahagiaan yg tercipta bagiku kala itu melalui canda dan tawa. Hal2 yg baru dan mengasyikan menjadikan ku begitu jauh dr sifat asli ku. Karena aku merasa tak nyaman dg aku yg baru. Kala itu.
Terlalu jauh hingga aku benar2 lupa bagaimana cara menghargai hal kecil, bagaimana berbagi kasih secara tulus, berinteraksi dengan kerabat secara hangat. Kebiasaan baru ku mendidikku begitu detail dan membingungkan hingga akhirnya aku resah dengan diriku sendiri.
Apakah betul hatiku milikku?
Itulah pertanyaan yg selalu mengganggu aku yg baru.
Beberapa hari, pekan berganti. Aku dan diriku yg baru meresahkan diriku yg asli.
Entah apa yg orang2 rasakan tentang aku yg baru. Tapi, diriku yg lama selalu menyatakan pertentangan.
Hingga suatu ketika, aku dan diriku yg baru tersesat pada kenyamanan.
Aku berusaha, berupaya agar lekas memulihkan kepribadian.
Aku dan diriku yang baru, selamat tinggal.
Kini, aku merasa nyaman walaupun juga berbeda dengan diriku yg lama. Semoga kelak aku bisa bertemu dg kekasih yg bisa membawa aku dan diriku yg lebih baru untuk senantiasa memperbaiki diri hingga tercipta kepribadian yg diridhoi Nya.
.
.
.
Ingin sekali rasanya bisa memeluk sosok yg mengubah ku, KH. Abdullah Gymnastiar.
Semoga Allah menjadikan sifat baik beliau tercermin dala kepribadianku yg paling baru.
Setidaknya seperti itu waktu yg ditunjukkan hpku. Hah, semoga media ini bisa aku gunakan dengan bijaksana dan menjadi pahala jariyyah untukku utuk bekal bertemu dg Kekasihku.
Ada suatu masa, kala itu aku begitu banyak mencoba sesuatu yg baru. Kebahagiaan yg tercipta bagiku kala itu melalui canda dan tawa. Hal2 yg baru dan mengasyikan menjadikan ku begitu jauh dr sifat asli ku. Karena aku merasa tak nyaman dg aku yg baru. Kala itu.
Terlalu jauh hingga aku benar2 lupa bagaimana cara menghargai hal kecil, bagaimana berbagi kasih secara tulus, berinteraksi dengan kerabat secara hangat. Kebiasaan baru ku mendidikku begitu detail dan membingungkan hingga akhirnya aku resah dengan diriku sendiri.
Apakah betul hatiku milikku?
Itulah pertanyaan yg selalu mengganggu aku yg baru.
Beberapa hari, pekan berganti. Aku dan diriku yg baru meresahkan diriku yg asli.
Entah apa yg orang2 rasakan tentang aku yg baru. Tapi, diriku yg lama selalu menyatakan pertentangan.
Hingga suatu ketika, aku dan diriku yg baru tersesat pada kenyamanan.
Aku berusaha, berupaya agar lekas memulihkan kepribadian.
Aku dan diriku yang baru, selamat tinggal.
Kini, aku merasa nyaman walaupun juga berbeda dengan diriku yg lama. Semoga kelak aku bisa bertemu dg kekasih yg bisa membawa aku dan diriku yg lebih baru untuk senantiasa memperbaiki diri hingga tercipta kepribadian yg diridhoi Nya.
.
.
.
Ingin sekali rasanya bisa memeluk sosok yg mengubah ku, KH. Abdullah Gymnastiar.
Semoga Allah menjadikan sifat baik beliau tercermin dala kepribadianku yg paling baru.
Komentar
Posting Komentar